Saturday, October 29, 2022

Tak SebeNing Namamu

Ning, konon begitu namamu

Itu yang kudengar dari angin yang berhembus kencang

Ning, sayang nasib tak  begitu ramah menghampirimu

Gentar sesekali, tapi saat itulah kemanusiaanmu kembali

Saat senang, kau bisa melompat-lompat dengan lisanmu

Ingin mengarahkan semua orang pada bahagiamu

Harus kuakui, kau sangat ahli dalam hal ini


Smartphone menjadi senjata utamamu kini

Untuk merebut simpati dan empati

Risak sana-sini mengabarkan betapa menderita dirimu oleh seseorang

Yang kepada orang lain kau ceritakan hal sebaliknya pula

Ah ya, tentu silat lidahmu membuat orang-orang saling bertikai

Tidak masalah para saudara menderita selama citamu tercapai

Inti kelemahanmu sederhana, tidak bisa melihat ada yang lebih bahagia

Itulah dirimu ning, simbol pertahanan perempuan melalui adu domba!

...

Nb:

Haruskah kutegaskan Ning, seberapa goyah dirimu sesungguhnya...


#perempuan #ayoberdaya #ayojadiorangbaik



Friday, August 6, 2021

Ajak Aku Bicara

Simbol atau tanda dalam komunikasi, sebenarnya ini yang ingin saya bicarakan. Pernah dibantingin pintu ga? Tanpa tahu sebabnya apa. Pernah diteriakin ga? Tanpa tahu sebabnya apa. Percayalah, simbol komunikasi itu diberikan akan kita mengerti maksud orang tersebut.

Aneh ya, gak ngomong tapi minta dimengerti. Solusinya jelas ya, jangan minta orang jadi cenayang, paham maksud tanpa dijelaskan. Ketika menginginkan sesuatu dari seseorang, ungkapkan dengan jelas, jangan malah memberikan tanda. Apalagi jika tanda itu berakibat negatif, menimbulkan potensi keributan, membuat orang lain sakit hati/tersinggung, atau membuat diri menjadi emosi. 

Sesungguhnya kamu hanya butuh menyampaikan dengan kalimat yang jelas, apa yang kamu inginkan terhadap orang tersebut. 

Kalau lagi malas ngomong bagaimana? Tanggung saja konsekuensinya, jangan malah ngamuk. Tanggung konsekuensinya dan terima dengan lapang dada bahwa orang tersebut tidak melakukan apa yang kamu inginkan. Terima konsekuensinya kalau kepalamu sampai pusing melihat orang tersebut. Terima konsekuensi dari berharap lebih terhadap seseorang yang kamu pikir dia akan peka tapi ternyata tidak.

Kenapa? Karena hanya dirimu sendirilah yang dapat mengendalikan pikiran dan keinginanmu. Bukan orang lain. Kamu kecewa orang lain tidak sepeka itu? Coba evaluasi lagi, apakah pola komunikasi kamu dan orang itu memang saling mendekatkan atau malah saling menjauhkan. 

Jika kamu masih sering memakai kata-kata "seharusnya dia begini dan begitu" kepada seseorang, jelas pola komunikasi yang kamu lakukan malah menjauhkan. Ketika kamu sampaikan pun hal ini akan menjadi masalah, karena kamu memaksakan orang tersebut menjadi versi yang kamu inginkan.

kamu mengukur orang tersebut melalui sudut pandangmu. Adilkah? Tentu tidak adil, karena kamu juga pasti memiliki kelemahan tersendiri, yang kamu inginkan orang lain bisa menerimanya.

So, jangan banting pintu atau teriak-teriak gak jelas. Sampaikan maksudmu dengan jelas, ajak aku bicara. 

Saturday, July 31, 2021

Apa? Tidak Apa-Apa

Kadang, kita tidak harus bertanya
tidak juga harus menjawab
tetap mencoba
sambil menghilangkan rasa kecewa
karena memang tak pantas kecewa

Berhenti kecewa, 
berhenti mencari penderitaan
berhenti menghakimi
dirimu sendiri

Terlalu berharga
untuk dirimu sendiri
dirimu berharga
untuk dirimu sendiri
untuk Tuhanmu yang menciptakan

Meski saat ini kau tak tahu
kau akan tahu nanti

Berhenti lelah
mari menikmati
sadari lagi,lagi, dan lagi

Dirimu, manusia, diciptakan 
untuk bisa
dari kegagalan dan kegagalan
untuk bisa

Tidak apa-apa
pada waktunya
darimu dan dariNya
tetap akan dicapai
sembari terus berusaha

dan itu, tidak apa-apa.


Sunday, January 6, 2019

Stagnan

You know
what you can do is;
just do it
again

Until its works
and done
Though the result is stuck
!

Bertemu Orang Jahat (Kamu pasti pernah juga?)

Pertama,
mereka ceria mendekatimu
mengabarkan visi dan misi yang sama
membuatmu gemas dengan realita
menjanjikan mencapai mimpi bersama

Kedua,
mereka bergerak bersama
membangun seiya sekata
membawamu pindah dari alam rupa
tanpa kau sadari telah ikut ke angkasa

Ketiga,
mereka buat kau bekerja
untuk mereka untuk mereka atas nama cinta
kau terus bekerja bekerja untuk mimpi (yang kau kira ada)
kau terus bekerja sementara mereka terus coba-coba
kau terus bekerja sembari digerogoti apa
kau terus bekerja mereka mulai berjaya
kau terus bekerja sendiri saja
kau terus bekerja masih percaya cinta
kau terus bekerja mereka mulai berkata
kau terus bekerja mulai bertemu luka
kau terus bekerja masih percaya asa
kau terus bekerja sadar penuh diperdaya
kau terus bekerja tak peduli apa
kau terus bekerja sampai rabis rasa
kau terus bekerja mereka membati buta
kau terus bekerja sampai habis raga
kau terus bekerja mereka potong tali kencana
kereta guncang, tak terkendali, kau terposok, jatuh!
kian terpuruk
jauh
sampai entah dimana...

Saat kau sadar,
telah hilang karya
telah hilang rumah
telah hilang cinta
telah hilang asa

Keempat,
(mereka membuat)
kau tak kenal lagi siapa dirimu.

Lalu kau memulai hidup baru
menjadi kepompong buruk rupa
terus bertumbuh
hingga merupa kupu
dengan ukiran sayap yang lebih jelita
dan kau pun berjaya dengan kebijaksanaan
menemui puncak kenyamanan hidup

Begitulah cara Tuhan mendidikmu
dengan cara bertemu orang jahat

the end.


Monday, December 10, 2018

Ketika Anakmu Jatuh (Sekuat Itulah Kau Harus Jadi Ibu)

Ketika anakmu jatuh,
semangati Ia untuk bangun
jangan malah kau peringatkan
dan terlihat lebih sakit
sekuat itu kau harus jadi ibu.

Karena batu akan selalu ada di jalan
biarkan Ia belajar menghadapinya satu per satu
yang perlu kau lakukan hanyalah menyuruhnya bangkit ketika terjatuh
sampai Ia tak jatuh lagi
sampai Ia mampu sendiri
mampu yang sebenarnya
mampu bukan sekedar tak ingin kau sedih
hingga Ia terus lari menghindari batu
Ia hanya jatuh dan jatuh tanpa bisa bangkit
sekuat itulah kau harus jadi ibu
kau hanya perlu ada saat Ia jatuh
dan terus menyemangatinya untuk bangkit lagi
sampai Ia tak jatuh lagi
sampai Ia kuat melumat batu-batu dijalan
batu-batu yang terus berdatangan dari langit
sampai batu menghormat padanya
saat itu kau akan bangga menjadi seorang ibu!

Kau hanya perlu ada untuknya
jangan suruh Ia berlari
tapi teriakkan padanya untuk menghadapi
seberapapun parah lukanya
kau jangan ikut terluka
sekuat itulah kau harus menjadi ibu!

Pelukan Ibu

aku mengingatnya
satu-satunya pelukanmu
ketika kita di bawah payung diguyur hujan
payung itu kecil sehingga kau merangkulku
langkah-langkah kaki yang basah dan terburu-buru
saat itu aku merasa
satu-satunya yang pernah kurasa
sampai sekarang kuingat bagaimana hangatnya
dan akupun menangis ketika mengingatnya,
kadang.

menjadi ibu seberat itu
menjadi ibu seberarti itu
menjadi ibu sebegitu...

jarak terlanjur jauh
untuk mendekatkan hati
yang ada hanya prasangka dan tuntutan
meminta dimengerti tanpa mau memberi
sulitnya dekat denganmu
tembok itu terlampau tinggi.


For You (Hope)

Apa yang kurasa,
apa yang kupikir.
aku menemukanmu tapi benarkah itu kau?
aku mendefinisikanmu tapi benarkah penafsiranku?
yang kutahu aku harus menghentikanmu
dan menggantinya dengan yang baru
dengan yang berpihak padaku bukan sebaliknya

Dan untuk rasa,
betapa sulita aku mendifinisikanmu
tapi aku harus mendefinisikanmu
karena kau pelan tapi pasti menelanku
menelanku menelanku menelanku
sampai aku tak tahu lagi apa
kenapa kau begitu sulit diterka
macam apa, macam apa, macam apa

Sudah cukup sudah
kau harus disudahi
meski aku tak tahu kau apa
aku tak akan berbicara tentang Tuhan dulu
benar Dia yang mengizinkan kau ada
Ah, kau membuatku bicara tentangNya juga!

Sudah cukup sudah
sumpah mati aku tak tahu kau apa
mati itupun sudahi sudah
terlihat pasti tapi tak bisa dicapai

Aku bicara padamu duhai rasa
kau masih saja,
aku tak tahu kau apa...
sudahi sudah itu yang kutahu saja
kutinggalkan kau
aku pindah ke lain hati
hati yang hidup
terus, terus, dan terus
tak pernah mati
itu saja yang kutahu pasti
aku pindah ke lain hati.

Monday, April 24, 2017

MENDEFINISIKAN LITERASI MEDIA UNTUK INDONESIA (ABSTRAK)

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi muncul seperti arus yang tidak bisa dibendung. Mulai dari televisi, gadget, hingga internet. Berbagai konten menerpa tanpa bisa dihindari, memunculkan dampak yang tidak sehat: ketergantungan, kekerasan, pornografi, kerenggangan hubungan manusia, dan sebagainya. Literasi media muncul sebagai sebuah solusi. Para ilmuwan percaya bahwa semakin media literate seseorang, semakin ia terhindar dari dampak buruk konten yang ditampilkan media massa. Beberapa Negara di Amerika dan Eropa bahkan telah lama memasukkan literasi media ke dalam kurikulum pendidikan, Banyak penelitian literasi media telah dihasilkan. Di Indonesia sendiri, penelitian mengenai literasi media mulai berkembang karena dampak buruk media makin terasa. Literasi media merupakan keterampilan yang mutlak dibutuhkan untuk dikuasai dalam menghadapi kemajuan teknologi dan informasi. Tetapi karena literasi media ini merupakan kemampuan yang sangat mendasar dan cukup kompleks, terjadi ketidakseragaman oleh para ilmuwan dalam mendifinisikannya. Oleh karena itu, dalam tulisan ini, penulis akan membahas perkembangan definisi literasi media oleh para ilmuwan dan merumuskan definisi literasi media yang tepat untuk Indonesia, berdasarkan tantangan lokal literasi media di Indonesia dan pengalaman riset yang pernah dilakukan. Hasilnya, definisi literasi media yang tepat untuk Indonesia adalah kemampuan mengakses dengan kesadaran penuh akan tujuan, mengenali pesan, mengenali pola, memahami arti, menganalisa (baik dan buruk), mengevaluasi (kelemahan dan kelebihan), mengelompokkan (persamaan dan perbedaan), mendeduksi informasi, menginduksi informasi, mensintesiskan informasi, dan mengabstraksikan informasi (positif dan negatif).

Tulisan ini merupakan salah satu tugas kuliah penulis selama berkuliah di S2 Ilmu Komunikasi dan Media UGM. Tantangan lokal literasi media yang maksud disini dirumuskan ke dalam beberapa faktor yang ditentukan berdasarkan fenomena literasi media yang banyak terjadi di Indonesia. Misalnya banyaknya tayangan bermuatan mistis yang sangat digemari masyarakat Indonesia. Selain itu, faktor perbedaan tipikal masyarakat juga turut menentukan, yaitu masyarakat agraris, industri dan informasi.

Referensi utama yang penulis gunakan adalah teori literasi media menurut Potter (Media Literacy, 2001), dimana Potter mengurai setiap kemampuan literasi media masih berorientasi terutama pada media lama dan kemampuan berpikir manusia itu sendiri. Pemilihan teori ini oleh penulis dikarenakan penulis membahas literasi media pada masyarakat agraris, di salah satu daerah 3T di Indonesia, masyarakat yang baru mengenal terknologi seperti smart phone dan internet.

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi.

Sunday, November 9, 2014

Sibuk Berpusing

Kepalaku pusing,
dosen keren memberikan tugas mulia,
merumuskan sistem media yang pas untuk Indonesia
ditengah kacaunya manusia
latah berkomentar saling membantah ini itu hingga tercerai
diombang-ambing informasi untuk kepentingan media massa,
keuntungan semata-mata.
Betapa bodohnya, dimana posisi eksistensi manusia kalau begitu.

Kepalaku pusing,
marilah kita runutkan dari awal.
Pasca orde baru media massa kami dicekal
setelah reformasi ia merdeka
merdeka dan merdeka terbang bebas
entah bagaimana merupa jala mencengkram semesta
perlawanan yang tertindas menjadi penindas
bukan fisik, tapi benak
mengaburkan identitas hingga tuntas
uang berkembang menjadi kuasa
berlomba-lomba menjadi pemilik media massa
berharap menjadi pemimpin negara.
untuk apa?
Berlomba-lomba menjual aset negara
uang yang  lebih besar lagi jawabannya.

Sungguh kepalaku pusing,
kesadaran ekonomi politik media massa seperti itu belum ada di masyarakat
lagipula siapa yang mau mengajarkannya?
alih-alih menyadari dan menghindar kita malah menikmati
Hollywood, K-Pop, J-Pop kita merupa
Sungguh cara terbaik bukan dengan menghindari
melainkan berkawan dan mengerti sisi positif dan negatifnya
temani anak anda nonton televisi sambil diskusi
agar ketika keluar rumah, terpapar televisi, informasi, erotisme, artis cantik
tidak lantas menjadi "ingin" dan meniru
bentuk konsep "keren" yang kuat dibenak mereka dengan tanganmu sendiri 

Tapi realita bicara kebalikkannya:
Ibu-ibu meletakkan anaknya di depan televisi supaya tidak rewel
Masyarakat pelosok ramai-ramai beli televisi sehabis panen meski makan masih ngutang
Kaum muda berlomba memakai merek idola kemudian narsis
Semua orang berkelahi dikolom komentar agar eksis
Begitu sulitkah dikehidupan sekarang untuk menjadi "terlihat"?

Berjayalah media massa mengontrol setiap sendi kehidupan kita
mengarahkan pemikiran, sikap, serta tindakan!
Semakin banyak iklan
semakin banyak yang berpihak
semakin banyak yang apatis
mana baik mana jahat tidak tahu lagi
semua fakta diputarbalikkan dengan argumen-argumen cerdas.
Jika ada lawan jangan sampai menang
sama-sama hancur itu lebih baik.
Setelah itu meluncurkan berbagai pencitraan lagi
berita korupsi hilang oleh blusukkan
bangsa ini mudah amnesia, katanya

Kepalaku makin pusing,
mana awal mana sebab
negara maju atau masyarakat cerdas
kenyataannya negara maju masyarakatnya cerdas!
Amerika dan Inggris tak pedulikan moral
undang-undang berpihak pada uang
tetapi aturan pasar ditetapkan
masyarakat cerdas membawa kontestasi media berlomba berkualitas
masyarakat menuntut keberpihakkan moral dalam UU.
Warga China dan Malaysia merasa terkekang
negara mengendalikan pers
tetapi warga dengan nyaman menyatakan keberpihakkan pada stabilitas yang dijaga.
Jepang dan Korea menolak dan membangun sendiri teknologi dan budaya
budaya dijaga, diwariskan dengan bangga, hingga kemudian mendunia.
Finlandia dan Denmark tak peduli uang,
media massa dipandang sebagai institusi sosial
mencerdaskan masyarakat fungsi utama
tidak muluk menjadi watch dog yang bangga kebablasan
subsidi negara untuk media massa
Ah, negeri ini hanya butuh bersikap!

Betapa pusingnya,
mana yang cocok diterapkan di Indonesia?
Praktek liberalnya mengalahkan negara liberal atas nama demokrasi
undang-undang mudah saja dikalahkan oleh uang.
Mau dibuat liberal sekalian,
tidak cocok dengan akar karakter bangsa
masih banyak manusia yang tidak melek huruf
apatah lagi melek media
hei, listrik saja mereka tidak punya.
Maka media massa harus bersikap sosial untuk mendidik.
Lagipula, liberal atau sosialis semua akan tetap protes
semua berbicara
lagi-lagi atas nama demokrasi
ternyata bangsa ini tidak mengerti apa maunya sendiri.
Atau hanya sekadar latah?

(Sudahlah, jangan pusing-pusing!)
Tetapi sungguh semua pilihan memuat konsekuensi
Konsekuensi yang harus disadari dan ditanggung bersama seperti negara-negara maju saja
Tinggal konsisten dengan niat baik dan bertahan
Tapi siapa?
Siapa pemimpin negeri ini yang berniat memperbaiki bangsa...

***

sampai di titik ini, tentu kita tidak boleh putus asa.
ya, kita hanya tidak boleh putus asa
meski kenyataan bicara berbeda..
karena kita tidak akan berpusing disini saja.

Kos PS_081114, 11:31 WIBnya Sleman :)

Sunday, May 25, 2014

Tips Mencapai Mimpi Kuliah di Luar Negeri

Saat ini aku sedang berkuliah di Universitas Gajah Mada, Prodi Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM. Seperti yang kemarin sempat kudiskusikan dengan beberapa teman, salah satu keuntungan kuliah di universitas yang berkelas internasional (ga pake data nih :p) adalah lebih terbukanya berbagai kesempatan untuk tahu dan mengikuti berbagai kegiatan yang juga bertaraf internasional. Bukan sesuatu yang sulit menemui tokoh nasional di UGM, dan Jogja. Para pembicara dan tokoh yang biasanya hanya bisa dilihat di televisi. Apalagi saat penempatan sebagai guru model SGI Dompet Dhuafa di Kab. Dompu, NTB. Dunia terlihat sangat tidak memihak, tidak mungkin rasanya bisa bertemu pembicara nasional disana. 
Salah satunya kemarin saat tanpa sengaja aku menghadiri "European Week" di kampusku. Setelah mengurus keperluan pembuatan LOA di DAA, aku mampir sebentar ke selasar barat FISIPOL untuk melihat stand-stand beasiswa dari negara-negara di Eropa. Karena sedang jam istirahat, tidak ada yang berjaga di stand yang ingin kudatangi. Kemudian aku menunggu hingga jam satu tiba. Tidak lama kemudian di depanku terjadi antrian yang tidak terlalu panjang jika dibandingkan dengan antrian tiket bioskop (apalagi tiket konser dan bola :p). Karena penasaran, kudatangi antrian itu dan bertanya pada salah seorang petugas: "Mbak ini ada acara apa ya?" Mbak-mbak panitia berbaju hitam menjawab: "Talk show beasiswa mbak, salah satu pembicaranya penulis buku 99 Cahaya di Langit Eropa. Menarik juga pikirku dalam hati.  Ketika si mbak panitia menawari untuk mendaftar dan menjanjikan seminar kit, akhirnya kutulis nama dan CP di lembar pendaftaran. Jadilah, sambil menunggu pembicara yang ternyata datang agak terlambat, dan stand yang tidak kunjung buka, aku berkeliling ke stand-stand lainnya. Kebanyakan stand adalah komunitas atau lembaga untuk mempersiapkan diri belajar di luar negeri. Salah satunya adalah Pusat Studi Jerman, yang gedungnya terletak tidak jauh dari FISIPOL. Kantor-kantor pusat studi bahasa UGM memang terpusat disana. Mereka menyediakan kursus bahasa dan informasi serta link alumni yang telah berkuliah di negara-negara tersebut. Ada juga stand Skandinavia. Ternyata ini adalah salah satu UKM di FISIPOL UGM yang fokusnya mempelajari tentang negara-negara Skandinavia. Ketika kutanya apa hebatnya Skandinavia, mereka yang menceritakan sistem demokrasi dan budaya yang patut dicontoh oleh Indonesia. Ke-kepo-anku tidak berhenti sampai disitu, he he. Ketika kutanya, apakah ada yang membimbing ketika mereka melakukan diskusi tentang apapun mengenai Skandinavia, mereka menyebutkan seorang dosen yang pernah berkuliah disana. Maka aku berkesimpulan bahwa mungkin ini adalah program para alumni dari Skandinavia, bisa jadi sebagai tindak lanjut atas beasiswa yang mereka dapatkan disana. Su'udzon ini akhirnya berkesimpulan bahwa mereka diberi beasiswa agar menyebarkan perihal Skandinavia ke sekelilingnya. Country branding atau apalah namanya, ha ha.
Akhirnya acara talk show dimulai juga. Ada tiga pembicara. Pertama, Pak Muhadi, Dosen HI UGM yang sudah sering bolak-balik ke Eropa. Kedua, Mas Rangga, suami dari Hanum Rais, penulis kedua buku 99 Cahaya di Langit Eropa. Ketiga, Mbak Inti dari Nuffic Neso, salah satu lembaga pemberi beasiswa ke Belanda. Lengkap sudah, pemaparan dan diskusi berlangsung seru. Langsung saja tak report ringkasannya ya, berikut adalah tips-tips untuk mencapai mimpi kuliah di luar negeri:


  1. Tetapkan dimana "PASSION" keilmuan kita. Point ini sangat ditekankan oleh Mbak Inti, pembicara ketiga. Kenapa? Penjelasannya

Friday, May 16, 2014

BOSAN

Well, aku sedang bosan, atau lebih tepatnya tidak terkendali. mengendalikan rasa bosan. untuk satu pemahaman saat ini dibutuhkan teknis: menerjemahkan, menyimpulkan per kalimat, lalu per paragraf (sampai tahap ini aku oke), lalu keseluruhan bacaan. Kemudian resum, kemudian review. Kemudian membandingkannya, benar atau salah. Untuk resume, bagian mana yang dianggap penting dan tidak penting? mana point-pointnya. Untuk review, butuh pengetahuan lain sebagai pembanding, dari mana dapatnya? Cari sendiri, kemudian lalukan proses dari awal menerjemah lagi. bukan hanya teorinya tentu saja, tapi juga metodologi, konsistensi tujuan penulisan, serta aspek-aspek lainnya. Setelah itu, belum tentu yang kau ambil sebagai pembanding ini tepat. Paradigmanya, titik tekannya, dari mana asalnya, sesuaikah?! Lalu, dari mana sebenarnya aku harus mulai...
Aku sedang bosan...
Hanya sedang bosan...

Kamar kos, 16 Mei 2014; 1:43 siang...

Saturday, January 18, 2014

KRPH 18 Januari ( Kondisi Palestina Saat Ini)

KRPH adalah kajian islami rutin di Masjid Mardliyah yang diadakan oleh mahasiswa UGM, lokasi masjidnya sendiri berada di kompleks kampus kedokteran UGM. Ini adalah ringkasan catatan kajian pada tanggal 18 Januasi 2014 sewaktu saya S2 di UGM :)

  1. Seharusnya para pemuda Indonesia bersifat seperti apa sekarang: Rasulullah di caci, di fitnah, tetapi merawat pengemis itu. Rasulullah berdakwah dengan totalitas, keteladanan, dalam Al-Quran. Generasi muslim harus canggih dan kuat, ini teori dasar kekuatan militer. Para pemuda saat ini harusnya berbagi peran, saat ini. Rata disemua bidang. Setidaknya dari kluarga sendiri, adalah keluarga muslim yang sehat dan kuat, dengan karakter-karakter sahabat. Teknologi, berorganisasi, menjadi sesuatu yang mutlak untuk dikuasai oleh para pemuda saat ini.
  2. Pengertian syahid: Konsep amal ditrima: niat ikhlas pada Allah dan amal sesuai contoh/panduan. Kasus palestina adalah kehidupan dr waktu ke waktu terus berjuang. Karena mereka digiring ke kehidupan yang tidak layak, tanah yg tidak subur, listrik bergantung pada Israel, sepanjang waktu berperang. Karena itu mereka yang ketika ada dipasar dan dibom, dikatakan syahid. Air diracuni, listrik dimatikan begitu lama saat musim dingin. Makanan sulit, sampai dibuat seperti pengemis pada Israel.
Palestina adalah gambaran ketidakadilan dunia yang mengingatkan kita untuk selalu bersyukur dan tidak pernah berhenti berusaha dalam menjalani hidup. Demikian cara Allah mendidik kita untuk belajar dari yang dialami oleh orang lain. Masyallah tabarakallah... Mari selalu doakan mereka yang sedang mengalami ketidakadilan... 

Monday, October 29, 2012

Pemuda



 (Refleksi Sumpah Pemuda)

Pemuda bukan titisan dewa
Dewa yang menerjang asa dan simpuh pada silau-silau
Dewa yang berdekap durjana memadu nafsu
Pemuda adalah tegak
Tegak diatas kejujuran meski riak duri sesayu menari
Pemuda bukan diam
Lantang pikir bermerdu dzikir menyeruak rupa-rupa detik
Pemuda tidak satu dan berhenti
Pemuda pelangi disetiap tetes hujan
Kian menderas memaku lamat sesayat resolusi
Pemuda bukan banjir
Banjir irama kerlap-kerlip sayup di temaram malam
Pemuda terus menggoyang!
Menelisik benang putih perak menembus liang tiran
Pemuda adalah punggawa
Membahu merenda zamrud persembahan merah putih jaya
Karena Pemuda adalah cinta
Cinta yang kasih memeluk hangat manfaat

Plb, 240411, lovely home

Diam (Kepadamu yang Lebih Memilih Diam)




Diam itu bukan emas!
Diam itu hitam
Hitam mengaburkan kebenaran
Hitam membungkus para pahlawan
Menghitamkan hati menjadi borok dan nanah perlahan
Diam itu bukan tenang
Diam adalah sebuah ketakutan
Diam adalah selemah-lemah iman
Diam itu bukan bisu
Diam adalah penghambaan dalam pada tiran
Diam berarti mencari aman
Diam itu celaka
Kejam mencelakai nasib-nasib yang bergantung padanya
Celakalah ia membunuh keberadaaan TuhanNya
Diam adalah amnesia!
Amnesia pada tugasnya sebagai punggawa semesta

Palembang, 260411, 10:09 waktu laptop

Monday, October 22, 2012

Kontrak Belajar




Oleh: Clara Novita Anggraini, S.I.Kom

Anda pasti tidak asing lagi dengan kontrak belajar. Hampir kita semua pernah mengecapnya, baik ketika kuliah maupun sekolah. Tetapi kontrak belajar dalam tulisan ini mengambil sisi yang berbeda, bukan dari sisi yang dikenai, melainkan yang mengenai. Benar sekali, kontrak belajar untuk para guru. Cerita ini terjadi ketika saya berkesempatan mengisi pelatihan guru-guru di gugus sekolah penempatan. Materi yang diminta adalah Pembelajaran Berbasis IT, Pembelajaran Inovatif, dan Pembuatan RPP. Bersama seorang teman yang masih satu kecamatan, saya berbagi tugas menjadi pemateri.
Mengingat kami berada di pelosok Indonesia, permasalahan utama yang akan kami hadapi mungkin mudah di tebak, yaitu mental para guru yang akan kami beri pelatihan. Di tambah lagi, pelatihan ini dilakukan berdasarkan proyek KKG yang dananya berhasil dicairkan. Mau tidak mau harus dilakukan, karena pertanggungjawabannya sudah diminta. Kami menghadapi para guru senior yang usianya jauh di atas kami (bahkan lebih tua dari orang tua kami), pilihan dari sekolahnya, dan dibayar untuk mengikuti pelatihan ini. Benar saja, berbagai benturan kemudian terjadi selama pelaksanaan pelatihan.
Pertama, saat kami mnyampaikan kontrak belajar selama pelatihan. Kalau dulu saya pernah mengalami shock karena bertemu seorang pembicara yang merokok sambil memberikan materi saat mengikuti Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa tingkat fakultas, disini saya bertemu satu ruangan penuh peserta guru laki-laki merokok. Tidak bisa dipungkiri hal ini  didahului oleh pemateri sebelumnya yang memiliki predikat senior dicivitas pelatihan. Subhanallah. Wow! Bisa anda bayangkan bagaimana rasanya masuk ke sebuah ruangan yang penuh dengan asap rokok, padahal anda akan melakukan aktivitas belajar. Salah satu point di kontrak belajar meminta para peserta untuk tidak merokok selama mengikuti pelatihan. 
Berbagai protes muncul sewaktu point tidak merokok ini disampaikan. Hingga kemudian saya bertanya: “Kalau boleh tahu kenapa bapak-bapak keberatan dengan point ini?” Salah seorang guru menjawab: “Saya itu tidak bisa konsentrasi kalau tidak merokok”. “Oh begitu, bagaimana kalau saya katakan kalau saya tidak bisa konsentrasi kalau saya menghirup asap rokok?”, tandas saya. Guru itu tersenyum, tetapi ada komentar lain dari pojok belakang: “Tidak usah saja kalau begitu ni!”. Refleks saya menjawab: “Oke, ya sudah kalau begitu kita sepakati, yang mau merokok silahkan tidak usah ikut saja, silahkan keluar. Ini peraturan pelatihan standar nasional, kalau Dompu mau maju, kita ikuti standar nasional”. Dalam hati saya deg-deg an setengah mati, tapi ini sudah saya persiapkan, masyarakat Dompu harus dididik. Salah satu penyebab tidak dikenalnya Dompu adalah masyarakatnya tidak mau membuka diri. Mereka harus melek, bahwa bukan hanya Dompu saja peradaban di dunia ini, sehingga pemikiran mereka dapat terbuka dan membawa kemajuan di Dompu.
Selanjutnya tentu saja ada percobaan terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi. Beberapa saat setelah disepakatinya kontrak, setelah jeda istirahat, dan diwaktu menjelang pulang. Ketika hal ini terjadi, saya kembali menanyakan kesiapan para guru untuk mengikuti pelatihan: “Guru hebat!”, sapaan ini akan dijawab dengan kata: “Siap!”. Saya ulangi beberapa kali sampai semua guru menjawab dengan semangat. “Apakah sudah siap belajar?”, lanjut saya. Kebanyakan dari mereka menjawab sudah. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Kemudian secara mendadak saya beri instruksi: “Oke, kami beri waktu lima menit. Yang masih mengobrol silahkan selesaikan, yang merokok, yang ingin ke belakang, makan, dan minum. Tapi setelah lima menit kita komitmen sudah rapi ya, dipersilahkan”. Para peserta bengong dan langsung diam. Tapi saya komitmen, lima menit. Mungkin saya kelewatan memperlakukan mereka sama persis seperti murid saya. Tapi biarlah saya berikan shock culture, mereka harus tahu, harus bisa tertib. Bagaimana dengan siswanya kalau gurunya seperti ini? Meskipun saya yakin mereka sangat handal menertibkan murid dengan metode menjewer, menampar, meninju, hingga menendang. Ah, mereka harus tahu, bahwa ada cara yang lebih hemat energi untuk menertibkan siswa.
Beberapa waktu sebelum pelatihan 4 hari ini dimulai, seorang guru bercerita pada saya. “Dulu waktu  pelatihan, selesainya bisa sampai jam 3 sore dalam sehari. Tapi bisa juga dipadatkan, misalnya menjadi sabtu dan minggu saja”. Dari obrolan ini saya berpikir, waktu normal pelatihan adalah jam 8 pagi sampai dengan jam 3 sore selama 4 hari, dipadatkan menjadi sabtu minggu hanya sampai sore. Samakah?! Tapi obrolan ini cukuplah memberi tahu saya perihal waktu dalam pandangan para guru Dompu. Sebagaimana perkiraan saya, sedikit kericuhan terjadi. Ketika membagikan kertas bekas setelah jeda istirahat untuk praktek membuat display kelas, ada seorang guru senior laki-laki yang bertanya: ”Ini sampai jam berapa pelatihannya Bu Clara?”. “Di jadwal sampai jam 3 Pak”, jawab saya. Si guru kembali menjawab: “ Kemarin cuma sampai jam setengah dua ni!” Spontan saya menjawab: “Begitu, jadi mau dikorupsikan waktunya?”. Si guru juga spontan menjawab: “Yaa bukan begitu juga…”. Terdengar dengungan dari penjuru kelas. “Tidak apa-apa pak, bapak dan ibu guru sekalian, ini kan pelatihan untuk bapak-bapak dan ibu-ibu, kami hanya fasilitator, jika memang ingin pulang cepat ya tidak apa-apa, kita sepakati saja. Yang punya kepentingan disini kan bapak dan ibu guru sekalian, bukan kami”, tanggap saya mencoba demokratis. Sesi percakapan ini kemudian diakhiri dengan pendapat seorang guru senior perempuan: “Tanya panitia saja selesai jam berapa”. Panitia menginstruksikan pelatihan selesai jam 14.30, setengah jam lebih cepat dari jadwal. Tapi tenang, kegiatan praktek di pelatihan membuat waktu tidak terasa berlalu. Para guru asyik mengerjakan display kelas hingga pukul 15.00. Jadilah pelatihan hari itu selesai pukul 15.10 WITA, he he. Saya berharap, semoga setiap guru bisa mengambil hikmah dari pelatihan hari ini. 
Hari terakhir pelatihan tiba. Jadwal terakhir adalah micro teaching dari RPP yang sudah di buat secara perkelompok. Karena waktu tidak cukup, akhirnya evaluasi micro teaching untuk guru kelas (guru olah raga di ruang berbeda) ditunda setelah ishoma, lagipula jadwal penutupan diundur hingga pukul 14.00, menunggu pejabat UPTD datang. Tapi ternyata pejabat Diknas Kabupaten lebih cepat datang. Maka sedikit keributan kembali terjadi ketika saya meminta guru kelas kembali masuk kelas untuk mulai evaluasi. Beberapa guru olah raga mulai gelisah karena terancam penutupan tidak segera dilaksanakan, ini berarti mereka tidak jadi pulang cepat. Dari jauh saya menyaksikan kegelisahan itu. Panitia datang ke kelas kami untuk membatalkan evaluasi dan langsung masuk ke kelas penutupan acara. Alhamdulillah protes datang dari para peserta sendiri. “Kalau tidak dievaluasi, bagaimana kami tahu yang kami kerjakan benar atau tidak, kami minta waktu sebentar saja”, ujar para guru kelas kepada panitia yang akhirnya mempersilahkan.
Tapi tidak semudah itu, tiga guru senior olah raga laki-laki bergantian menginterupsi, menyalahkan kami dan memerintahkan segera mengakhiri kegiatan. Bukan hanya guru ternyata, pejabat UPTD yang sudah datang juga turut menginterupsi dengan masuk ke ruangan dan berjalan-jalan dengan gelisah. Aaaarrgghhh, suasana apa ini? Evaluasi mau tidak mau tersendat-sendat, tidak konsentrasi. Para peserta pelatihan memandangi kami dengan ekspresi tidak enak dan meminta maaf. Saya dan teman semakin belepotan berbicara. Ketika ada yang menginterupsi lagi dari depan pintu saya berkata: “Bukan kami pak yang mau, guru-guru sendiri yang minta dievaluasi”. Maka penginterupsi itu pun mundur.
Pada akhirnya, evaluasi micro teaching tuntas dengan tidak memuaskan. Setelah buru-buru di tutup dan meminta maaf kami segera meminta para guru untuk pindah kelas. Sambil membereskan barang-barang pelatihan teman saya bertanya sinis, “Kita juga harus ikut penutupan ya?!” Saya tersenyum dan berkata: “Lembo ade” (harap maklum), kita sudah beberapa kali mengalami, pejabat itu tidak bisa menunggu, he he”.
Sampai di tempat penutupan, saya agak terkejut dengan tanggapan Diknas Kabupaten, bertolak belakang dengan yang saya bayangkan. Usut punya usut, ternyata pejabat Diknas Kabupaten menginstruksikan untuk menyelesaikan terlebih dahulu evaluasi dan bersedia menunggu. Lalu siapa yang ternyata tidak sabaran dengan memakai pejabat Diknas sebagai alasan? Para guru olah raga. Hmm, saya hanya senyum-senyum saja ketika sampai dua hari kemudian masih ada yang mengeluhkan: “Sebenarnya kemarin itu harusnya dituntaskan dulu evaluasinya, guru-guru olah raga ini yang tidak sabar, mereka taunya makan dan minta uang saja!”. Ups, sudah beberapa orang berkata begini. Lalu dengan santai saya menjawab:” Iya bu… lembo ade”. Seperti biasa, permasalahan seberat apapun di Dompu biasa diselesaikan dengan dua kata saja: “Lembo Ade”.

Kontrak Belajar




Oleh: Clara Novita Anggraini, S.I.Kom

Anda pasti tidak asing lagi dengan kontrak belajar. Hampir kita semua pernah mengecapnya, baik ketika kuliah maupun sekolah. Tetapi kontrak belajar dalam tulisan ini mengambil sisi yang berbeda, bukan dari sisi yang dikenai, melainkan yang mengenai. Benar sekali, kontrak belajar untuk para guru. Cerita ini terjadi ketika saya berkesempatan mengisi pelatihan guru-guru di gugus sekolah penempatan. Materi yang diminta adalah Pembelajaran Berbasis IT, Pembelajaran Inovatif, dan Pembuatan RPP. Bersama seorang teman yang masih satu kecamatan, saya berbagi tugas menjadi pemateri.
Mengingat kami berada di pelosok Indonesia, permasalahan utama yang akan kami hadapi mungkin mudah di tebak, yaitu mental para guru yang akan kami beri pelatihan. Di tambah lagi, pelatihan ini dilakukan berdasarkan proyek KKG yang dananya berhasil dicairkan. Mau tidak mau harus dilakukan, karena pertanggungjawabannya sudah diminta. Kami menghadapi para guru senior yang usianya jauh di atas kami (bahkan lebih tua dari orang tua kami), pilihan dari sekolahnya, dan dibayar untuk mengikuti pelatihan ini. Benar saja, berbagai benturan kemudian terjadi selama pelaksanaan pelatihan.
Pertama, saat kami mnyampaikan kontrak belajar selama pelatihan. Kalau dulu saya pernah mengalami shock karena bertemu seorang pembicara yang merokok sambil memberikan materi saat mengikuti Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa tingkat fakultas, disini saya bertemu satu ruangan penuh peserta guru laki-laki merokok. Tidak bisa dipungkiri hal ini  didahului oleh pemateri sebelumnya yang memiliki predikat senior dicivitas pelatihan. Subhanallah. Wow! Bisa anda bayangkan bagaimana rasanya masuk ke sebuah ruangan yang penuh dengan asap rokok, padahal anda akan melakukan aktivitas belajar. Salah satu point di kontrak belajar meminta para peserta untuk tidak merokok selama mengikuti pelatihan.
Berbagai protes muncul sewaktu point tidak merokok ini disampaikan. Hingga kemudian saya bertanya: “Kalau boleh tahu kenapa bapak-bapak keberatan dengan point ini?” Salah seorang guru menjawab: “Saya itu tidak bisa konsentrasi kalau tidak merokok”. “Oh begitu, bagaimana kalau saya katakan kalau saya tidak bisa konsentrasi kalau saya menghirup asap rokok?”, tandas saya. Guru itu tersenyum, tetapi ada komentar lain dari pojok belakang: “Tidak usah saja kalau begitu ni!”. Refleks saya menjawab: “Oke, ya sudah kalau begitu kita sepakati, yang mau merokok silahkan tidak usah ikut saja, silahkan keluar. Ini peraturan pelatihan standar nasional, kalau Dompu mau maju, kita ikuti standar nasional”. Dalam hati saya deg-deg an setengah mati, tapi ini sudah saya persiapkan, masyarakat Dompu harus dididik. Salah satu penyebab tidak dikenalnya Dompu adalah masyarakatnya tidak mau membuka diri. Mereka harus melek, bahwa bukan hanya Dompu saja peradaban di dunia ini, sehingga pemikiran mereka dapat terbuka dan membawa kemajuan di Dompu.
Selanjutnya tentu saja ada percobaan terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi. Beberapa saat setelah disepakatinya kontrak, setelah jeda istirahat, dan diwaktu menjelang pulang. Ketika hal ini terjadi, saya kembali menanyakan kesiapan para guru untuk mengikuti pelatihan: “Guru hebat!”, sapaan ini akan dijawab dengan kata: “Siap!”. Saya ulangi beberapa kali sampai semua guru menjawab dengan semangat. “Apakah sudah siap belajar?”, lanjut saya. Kebanyakan dari mereka menjawab sudah. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Kemudian secara mendadak saya beri instruksi: “Oke, kami beri waktu lima menit. Yang masih mengobrol silahkan selesaikan, yang merokok, yang ingin ke belakang, makan, dan minum. Tapi setelah lima menit kita komitmen sudah rapi ya, dipersilahkan”. Para peserta bengong dan langsung diam. Tapi saya komitmen, lima menit. Mungkin saya kelewatan memperlakukan mereka sama persis seperti murid saya. Tapi biarlah saya berikan shock culture, mereka harus tahu, harus bisa tertib. Bagaimana dengan siswanya kalau gurunya seperti ini? Meskipun saya yakin mereka sangat handal menertibkan murid dengan metode menjewer, menampar, meninju, hingga menendang. Ah, mereka harus tahu, bahwa ada cara yang lebih hemat energi untuk menertibkan siswa.
Beberapa waktu sebelum pelatihan 4 hari ini dimulai, seorang guru bercerita pada saya. “Dulu waktu  pelatihan, selesainya bisa sampai jam 3 sore dalam sehari. Tapi bisa juga dipadatkan, misalnya menjadi sabtu dan minggu saja”. Dari obrolan ini saya berpikir, waktu normal pelatihan adalah jam 8 pagi sampai dengan jam 3 sore selama 4 hari, dipadatkan menjadi sabtu minggu hanya sampai sore. Samakah?! Tapi obrolan ini cukuplah memberi tahu saya perihal waktu dalam pandangan para guru Dompu. Sebagaimana perkiraan saya, sedikit kericuhan terjadi. Ketika membagikan kertas bekas setelah jeda istirahat untuk praktek membuat display kelas, ada seorang guru senior laki-laki yang bertanya: ”Ini sampai jam berapa pelatihannya Bu Clara?”. “Di jadwal sampai jam 3 Pak”, jawab saya. Si guru kembali menjawab: “ Kemarin cuma sampai jam setengah dua ni!” Spontan saya menjawab: “Begitu, jadi mau dikorupsikan waktunya?”. Si guru juga spontan menjawab: “Yaa bukan begitu juga…”. Terdengar dengungan dari penjuru kelas. “Tidak apa-apa pak, bapak dan ibu guru sekalian, ini kan pelatihan untuk bapak-bapak dan ibu-ibu, kami hanya fasilitator, jika memang ingin pulang cepat ya tidak apa-apa, kita sepakati saja. Yang punya kepentingan disini kan bapak dan ibu guru sekalian, bukan kami”, tanggap saya mencoba demokratis. Sesi percakapan ini kemudian diakhiri dengan pendapat seorang guru senior perempuan: “Tanya panitia saja selesai jam berapa”. Panitia menginstruksikan pelatihan selesai jam 14.30, setengah jam lebih cepat dari jadwal. Tapi tenang, kegiatan praktek di pelatihan membuat waktu tidak terasa berlalu. Para guru asyik mengerjakan display kelas hingga pukul 15.00. Jadilah pelatihan hari itu selesai pukul 15.10 WITA, he he. Saya berharap, semoga setiap guru bisa mengambil hikmah dari pelatihan hari ini.
Hari terakhir pelatihan tiba. Jadwal terakhir adalah micro teaching dari RPP yang sudah di buat secara perkelompok. Karena waktu tidak cukup, akhirnya evaluasi micro teaching untuk guru kelas (guru olah raga di ruang berbeda) ditunda setelah ishoma, lagipula jadwal penutupan diundur hingga pukul 14.00, menunggu pejabat UPTD datang. Tapi ternyata pejabat Diknas Kabupaten lebih cepat datang. Maka sedikit keributan kembali terjadi ketika saya meminta guru kelas kembali masuk kelas untuk mulai evaluasi. Beberapa guru olah raga mulai gelisah karena terancam penutupan tidak segera dilaksanakan, ini berarti mereka tidak jadi pulang cepat. Dari jauh saya menyaksikan kegelisahan itu. Panitia datang ke kelas kami untuk membatalkan evaluasi dan langsung masuk ke kelas penutupan acara. Alhamdulillah protes datang dari para peserta sendiri. “Kalau tidak dievaluasi, bagaimana kami tahu yang kami kerjakan benar atau tidak, kami minta waktu sebentar saja”, ujar para guru kelas kepada panitia yang akhirnya mempersilahkan.
Tapi tidak semudah itu, tiga guru senior olah raga laki-laki bergantian menginterupsi, menyalahkan kami dan memerintahkan segera mengakhiri kegiatan. Bukan hanya guru ternyata, pejabat UPTD yang sudah datang juga turut menginterupsi dengan masuk ke ruangan dan berjalan-jalan dengan gelisah. Aaaarrgghhh, suasana apa ini? Evaluasi mau tidak mau tersendat-sendat, tidak konsentrasi. Para peserta pelatihan memandangi kami dengan ekspresi tidak enak dan meminta maaf. Saya dan teman semakin belepotan berbicara. Ketika ada yang menginterupsi lagi dari depan pintu saya berkata: “Bukan kami pak yang mau, guru-guru sendiri yang minta dievaluasi”. Maka penginterupsi itu pun mundur.
Pada akhirnya, evaluasi micro teaching tuntas dengan tidak memuaskan. Setelah buru-buru di tutup dan meminta maaf kami segera meminta para guru untuk pindah kelas. Sambil membereskan barang-barang pelatihan teman saya bertanya sinis, “Kita juga harus ikut penutupan ya?!” Saya tersenyum dan berkata: “Lembo ade” (harap maklum), kita sudah beberapa kali mengalami, pejabat itu tidak bisa menunggu, he he”.
Sampai di tempat penutupan, saya agak terkejut dengan tanggapan Diknas Kabupaten, bertolak belakang dengan yang saya bayangkan. Usut punya usut, ternyata pejabat Diknas Kabupaten menginstruksikan untuk menyelesaikan terlebih dahulu evaluasi dan bersedia menunggu. Lalu siapa yang ternyata tidak sabaran dengan memakai pejabat Diknas sebagai alasan? Para guru olah raga. Hmm, saya hanya senyum-senyum saja ketika sampai dua hari kemudian masih ada yang mengeluhkan: “Sebenarnya kemarin itu harusnya dituntaskan dulu evaluasinya, guru-guru olah raga ini yang tidak sabar, mereka taunya makan dan minta uang saja!”. Ups, sudah beberapa orang berkata begini. Lalu dengan santai saya menjawab:” Iya bu… lembo ade”. Seperti biasa, permasalahan seberat apapun di Dompu biasa diselesaikan dengan dua kata saja: “Lembo Ade”.

Tak SebeNing Namamu

Ning, konon begitu namamu Itu yang kudengar dari angin yang berhembus kencang Ning, sayang nasib tak  begitu ramah menghampirimu Gentar sese...