Sunday, January 6, 2019

Stagnan

You know
what you can do is;
just do it
again

Until its works
and done
Though the result is stuck
!

Bertemu Orang Jahat (Kamu pasti pernah juga?)

Pertama,
mereka ceria mendekatimu
mengabarkan visi dan misi yang sama
membuatmu gemas dengan realita
menjanjikan mencapai mimpi bersama

Kedua,
mereka bergerak bersama
membangun seiya sekata
membawamu pindah dari alam rupa
tanpa kau sadari telah ikut ke angkasa

Ketiga,
mereka buat kau bekerja
untuk mereka untuk mereka atas nama cinta
kau terus bekerja bekerja untuk mimpi (yang kau kira ada)
kau terus bekerja sementara mereka terus coba-coba
kau terus bekerja sembari digerogoti apa
kau terus bekerja mereka mulai berjaya
kau terus bekerja sendiri saja
kau terus bekerja masih percaya cinta
kau terus bekerja mereka mulai berkata
kau terus bekerja mulai bertemu luka
kau terus bekerja masih percaya asa
kau terus bekerja sadar penuh diperdaya
kau terus bekerja tak peduli apa
kau terus bekerja sampai rabis rasa
kau terus bekerja mereka membati buta
kau terus bekerja sampai habis raga
kau terus bekerja mereka potong tali kencana
kereta guncang, tak terkendali, kau terposok, jatuh!
kian terpuruk
jauh
sampai entah dimana...

Saat kau sadar,
telah hilang karya
telah hilang rumah
telah hilang cinta
telah hilang asa

Keempat,
(mereka membuat)
kau tak kenal lagi siapa dirimu.

Lalu kau memulai hidup baru
menjadi kepompong buruk rupa
terus bertumbuh
hingga merupa kupu
dengan ukiran sayap yang lebih jelita
dan kau pun berjaya dengan kebijaksanaan
menemui puncak kenyamanan hidup

Begitulah cara Tuhan mendidikmu
dengan cara bertemu orang jahat

the end.


Monday, December 10, 2018

Ketika Anakmu Jatuh (Sekuat Itulah Kau Harus Jadi Ibu)

Ketika anakmu jatuh,
semangati Ia untuk bangun
jangan malah kau peringatkan
dan terlihat lebih sakit
sekuat itu kau harus jadi ibu.

Karena batu akan selalu ada di jalan
biarkan Ia belajar menghadapinya satu per satu
yang perlu kau lakukan hanyalah menyuruhnya bangkit ketika terjatuh
sampai Ia tak jatuh lagi
sampai Ia mampu sendiri
mampu yang sebenarnya
mampu bukan sekedar tak ingin kau sedih
hingga Ia terus lari menghindari batu
Ia hanya jatuh dan jatuh tanpa bisa bangkit
sekuat itulah kau harus jadi ibu
kau hanya perlu ada saat Ia jatuh
dan terus menyemangatinya untuk bangkit lagi
sampai Ia tak jatuh lagi
sampai Ia kuat melumat batu-batu dijalan
batu-batu yang terus berdatangan dari langit
sampai batu menghormat padanya
saat itu kau akan bangga menjadi seorang ibu!

Kau hanya perlu ada untuknya
jangan suruh Ia berlari
tapi teriakkan padanya untuk menghadapi
seberapapun parah lukanya
kau jangan ikut terluka
sekuat itulah kau harus menjadi ibu!

Pelukan Ibu

aku mengingatnya
satu-satunya pelukanmu
ketika kita di bawah payung diguyur hujan
payung itu kecil sehingga kau merangkulku
langkah-langkah kaki yang basah dan terburu-buru
saat itu aku merasa
satu-satunya yang pernah kurasa
sampai sekarang kuingat bagaimana hangatnya
dan akupun menangis ketika mengingatnya,
kadang.

menjadi ibu seberat itu
menjadi ibu seberarti itu
menjadi ibu sebegitu...

jarak terlanjur jauh
untuk mendekatkan hati
yang ada hanya prasangka dan tuntutan
meminta dimengerti tanpa mau memberi
sulitnya dekat denganmu
tembok itu terlampau tinggi.


For You (Hope)

Apa yang kurasa,
apa yang kupikir.
aku menemukanmu tapi benarkah itu kau?
aku mendefinisikanmu tapi benarkah penafsiranku?
yang kutahu aku harus menghentikanmu
dan menggantinya dengan yang baru
dengan yang berpihak padaku bukan sebaliknya

Dan untuk rasa,
betapa sulita aku mendifinisikanmu
tapi aku harus mendefinisikanmu
karena kau pelan tapi pasti menelanku
menelanku menelanku menelanku
sampai aku tak tahu lagi apa
kenapa kau begitu sulit diterka
macam apa, macam apa, macam apa

Sudah cukup sudah
kau harus disudahi
meski aku tak tahu kau apa
aku tak akan berbicara tentang Tuhan dulu
benar Dia yang mengizinkan kau ada
Ah, kau membuatku bicara tentangNya juga!

Sudah cukup sudah
sumpah mati aku tak tahu kau apa
mati itupun sudahi sudah
terlihat pasti tapi tak bisa dicapai

Aku bicara padamu duhai rasa
kau masih saja,
aku tak tahu kau apa...
sudahi sudah itu yang kutahu saja
kutinggalkan kau
aku pindah ke lain hati
hati yang hidup
terus, terus, dan terus
tak pernah mati
itu saja yang kutahu pasti
aku pindah ke lain hati.

Monday, April 24, 2017

MENDEFINISIKAN LITERASI MEDIA UNTUK INDONESIA (ABSTRAK)

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi muncul seperti arus yang tidak bisa dibendung. Mulai dari televisi, gadget, hingga internet. Berbagai konten menerpa tanpa bisa dihindari, memunculkan dampak yang tidak sehat: ketergantungan, kekerasan, pornografi, kerenggangan hubungan manusia, dan sebagainya. Literasi media muncul sebagai sebuah solusi. Para ilmuwan percaya bahwa semakin media literate seseorang, semakin ia terhindar dari dampak buruk konten yang ditampilkan media massa. Beberapa Negara di Amerika dan Eropa bahkan telah lama memasukkan literasi media ke dalam kurikulum pendidikan, Banyak penelitian literasi media telah dihasilkan. Di Indonesia sendiri, penelitian mengenai literasi media mulai berkembang karena dampak buruk media makin terasa. Literasi media merupakan keterampilan yang mutlak dibutuhkan untuk dikuasai dalam menghadapi kemajuan teknologi dan informasi. Tetapi karena literasi media ini merupakan kemampuan yang sangat mendasar dan cukup kompleks, terjadi ketidakseragaman oleh para ilmuwan dalam mendifinisikannya. Oleh karena itu, dalam tulisan ini, penulis akan membahas perkembangan definisi literasi media oleh para ilmuwan dan merumuskan definisi literasi media yang tepat untuk Indonesia, berdasarkan tantangan lokal literasi media di Indonesia dan pengalaman riset yang pernah dilakukan. Hasilnya, definisi literasi media yang tepat untuk Indonesia adalah kemampuan mengakses dengan kesadaran penuh akan tujuan, mengenali pesan, mengenali pola, memahami arti, menganalisa (baik dan buruk), mengevaluasi (kelemahan dan kelebihan), mengelompokkan (persamaan dan perbedaan), mendeduksi informasi, menginduksi informasi, mensintesiskan informasi, dan mengabstraksikan informasi (positif dan negatif).

Tulisan ini merupakan salah satu tugas kuliah penulis selama berkuliah di S2 Ilmu Komunikasi dan Media UGM. Tantangan lokal literasi media yang maksud disini dirumuskan ke dalam beberapa faktor yang ditentukan berdasarkan fenomena literasi media yang banyak terjadi di Indonesia. Misalnya banyaknya tayangan bermuatan mistis yang sangat digemari masyarakat Indonesia. Selain itu, faktor perbedaan tipikal masyarakat juga turut menentukan, yaitu masyarakat agraris, industri dan informasi.

Referensi utama yang penulis gunakan adalah teori literasi media menurut Potter (Media Literacy, 2001), dimana Potter mengurai setiap kemampuan literasi media masih berorientasi terutama pada media lama dan kemampuan berpikir manusia itu sendiri. Pemilihan teori ini oleh penulis dikarenakan penulis membahas literasi media pada masyarakat agraris, di salah satu daerah 3T di Indonesia, masyarakat yang baru mengenal terknologi seperti smart phone dan internet.

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi.

Asian Games 2018 @ Palembang