Published with Blogger-droid v2.0.4
Thursday, May 10, 2012
Monday, May 7, 2012
Masuk Barisan Sekolah Guru Indonesia, Beranikah Anda?! (Sebuah Tantangan Kepada Para Pemuda Cerdas)
Masuk
Barisan Sekolah Guru Indonesia, Beranikah Anda?!
(Sebuah
Tantangan Kepada Para Pemuda Cerdas)
Jangan
sembarangan masuk SGI. Mungkin SGI terdengar sangat menggiurkan. SGI tidak
menjanjikan gaji yang menggiurkan, pas-pas an saja memenuhi kebutuhan hidup di
daerah penempatan. Nilai baik buruk di SGI beracuan pada Tuhan, Syariat Islam,
Allah SWT, karena SGI di danai oleh uang zakat. Uang zakat tidak bisa dipakai
secara sembarang kawan. Dengan demikian anda di tuntut untuk menguasai ilmu
ikhlas. Anda juga harus mau dijoglok untuk berkarakter, sangat tidak
mudah bagi fresh graduate yang
menyandang predikat berprestasi. Ego anda akan ditekan sedmikian rupa untuk dibentuk menjadi acuan berstandar SGI.
Anda
juga tidak akan mendapatkan prestise.
Anda hanya akan mendapat sanjungan yang mematikan niat lurus anda. Anda akan dinilai
hebat karena bersedia membangun negeri walaupun menderita. Tinggal di daerah
pelosok dengan masyarakat bermindset
terbelakang, tidak ada makanan, air, listrik, dan sinyal. Hanya segelintir
orang saja yang menyanjung anda seperti itu. Mereka adalah orang-orang yang
mengerti, berlatar pendidikan menengah ke atas. Sedikit jauh dari Pulau Jawa,
terutama kabupaten-kabupaten, anda tidak akan bertemu lagi dengan orang-orang
seperti itu. Jangan berharap juga anda akan kebagian sedikit prestise lembaga, Koran
Republika, media massa tempat lahirnya Dompet Dhuafa yang menggawangi SGI.
Masyarakat pelosok tidak akan tahu apa itu SGI, Dompet Dhuafa, dan atau Koran Republika.
Anda tidak akan di label hebat berjiwa malaikat. Anda akan di pandang sebagai
orang asing yang tiba-tiba datang entah dengan maksud apa. Anda akan di
curigai, di investigasi berapa gaji anda, di anggap bisa segala hal, dimonitor
setiap tindak tanduk anda. Salah langkah sedikit, anda akan di anggap
menggurui. masyarakat dengan karakter keras dan terbelakang tidak akan suka
digurui.
SGI
bukan sekedar gerakan mengajar. SGI murni sebuah pengabdian. Pengabdian kepada
Allah SWT. Pembuktian bahwa diri bernilai di mata Tuhan, bukan di mata manusia.
Anda tidak akan mendapatkan duniawi. Harta anda berbentuk amal, bekal di
akhirat, yang tidak kasat mata. Sebagai manusia anda akan kesulitan memahami
realitas ini, terutama ketika iman anda sedang turun. Sudah Sunnatullah iman
manusia naik turun bukan? SGI berbeda dengan program mengajar lainnya. Anda akan
dididik profesi keguruan, dan setelah kontrak selesai, anda diharapkan terus
menjadi guru atau minimal tetap berkecimpung di dunia pendidikan. SGI tidak
sekadar gerakan mengajar. Setelah ngebut pembekalan selama 6 bulan, anda akan
membangun sebuah desa bukan hanya di sekolah saja, tetapi juga melakukan community development dan social awareness. Anda akan membangun
pemikiran, mengaktifkan kembali organisasi kemasyarakatan seperti karang taruna,
pengajian ibu-ibu, dan memberikan akses ekonomi agar masyarakat primitif berubah produktif.
Beranikah
anda bergabung dengan SGI? Semenjak menandatangai kontrak pertama kali ego anda
akan di tekan habis. Sedari awal bergabung anda akan di cap sebagai seorang
dewasa yang cerdas, sekali lagi dengan ukuran syariat islam. Bukan sebatas menjalankan
kewajiban dalam agama islam, tetapi juga tataran sunnah: cara berbicara, makan,
dan berinteraksi. Bahkan ketika penempatan anda dituntut untuk mensyiarkan sunnah-sunnah
dalam agama islam. Siapkah anda? Anda tidak akan diberi waktu lama untuk
beradaptasi. Dengan salah satu point
kontrak bersedia mematuhi semua peraturan di SGI tanpa mengetahui detail point-point tersebut, sistem yang
diterapkan di SGI sama seperti zaman Rasulullah: sami’na wa ato’na (kami
dengar dan kami taat).
Bergabung
dengan SGI bukan sekedar mengorbankan diri mengajar di pelosok sambil makan
nasi dengan garam, mengangkut air 100 meter sebelum bisa mandi, tinggal
bergelapan tanpa listrik (apalagi internet), tidak bisa dihubungi orang tua
karena tidak ada sinyal, dan menggantikan guru mengajar sementara mereka sibuk
mengobrol dan memaki murid. Bergabung di SGI adalah sebuah bentuk kesadaran
sebagai mahluk ciptaan Allah SWT. Di SGI anda sama sekali tidak mendapatkan
duniawi. Di SGI, anda difasilitasi untuk memenuhi fitrah anda sebagai manusia
di bumi: menjadi khalifah, mengajak amar ma’ruf nahi munkar, dan
bermanfaat. Siapkah anda?!
Kepada
para pemuda idealis, cerdas, dan prestatif yang menasbihkan hidupnya untuk
kemajuan bangsa, kemanfaatan, atau apapun namanya. Bergabung dengan SGI Dompet
Dhuafa, beranikah anda?!
Friday, January 20, 2012
Dara dan Taujih (awal merasakan keberlimpahan informasi)
Dara membaca sms yang baru saja masuk di ponselnya. Dari nama di layar dia sudah tau apa kira-kira isi dari sms itu. Sebuah taujih. Yang terkadang panjangnya bisa mencapai 5 halaman. Jika tidak sedang dalam keadaan lelah atau terburu-buru, akan dibaca dengan teliti. Mencoba mengerti maksud taujih itu. Terutama maksud si pengirim setelah memaparkan beberapa ayat alquran, hadist, atau pendapat orang bijak. Saat inilah, berbagai prasangka akan muncul di hati dara.
Selanjutnya, prasangka ini akan diolah otaknya secara spontan. Membuahkan pikiran-pikiran yang positif, setelah berkali-kali menganulir pikiran-pikiran negatif yang muncul. Dara mensugesti, mencoba berhusnudzan, dan mengafirmasi diri sendiri. Mau tidak mau akan ada pemikiran: "kenapa orang ini mengirimi saya taujih seperti ini? Apakah saya telah melakukan perbuatan jelek yang mengakibatkan taujih itu muncul?".
Pertanyaan ini akan muncul terutama pada orang yang belum terlalu dikenal dara. Jika terhadap orang yang dikenal, maka dara akan bersikap positif, apalagi jika tidak ada kejadian menyangkut dirinya tentang taujih itu. Atau juga karena dara sudah mengenal tabiat, watak, serta pemikiran si pengirim taujih. Maka dara hanya membaca sekilas, menunda untuk membaca, atau langsung mengirimkan feedback positif secara singkat jika mood nya sedang baik. Sama sekali tidak ada pertanyaan yang mengganjal.
Dalam benak dara, taujih yang sering diterimanya melalui sms adalah sesuatu yang baik. Tetapi tetap saja, terkadang dara enggan membaca sms-sms itu. Panjang halaman sms, pemilihan kata, dan prolog yang menjemukan menjadi nominator utama penyebabnya. Terkadang dara malah terjebak. Memaksa diri membaca taujih tersebut karena khawatir dirinya tidak bersyukur. Masih banyak orang yang memperhatikannya dengan mengirim taujih-taujih itu. Dalam keadaan ini dara akan membaca sms secara terburu-buru tanpa mengerti maknanya.
Tetapi dara juga tidak memungkiri bahwa terkadang dia juga mempunyai keinginan membagi hikmah yang didapatnya melalui sms taujih. Tetapi karena kasus penerimaan taujih yang terjadi pada dirinya, dara menjadi sangat jarang melakukannya. Ketika berkesempatan, dara akan mengemas sms taujihnya, dengan semenarik, sesingkat, dan seefektif mungkin untuk dimengerti dan dibaca. Di luar segala bentuk penerimaan negatif dara terhadap faktor fisik dan isi sebuah sms taujih, dalam benak dara sms taujih tetaplah positif. Meskipun Ia khawatir, bahwa jumlah taujih yang masuk ke-HP-nya yang semakin banyak dapat menyebabkan overload hingga rusaknya HP.
Tuesday, March 22, 2011
Kau Bau Hujan
I
Kau bau hujan.
Berapa hari tak pulang kau bau hujan
Sebenarnya apa perolehanmu disana
Kenapa kehadiranmu kini menghadirkan mendung di setiap hati
Aku mencium bau hujan tidak hanya dari wajahmu
Rambutmu menyebarkan aroma gerimis
Tanganmu menyebabkan hujan angin
Dan kakimu, menghembuskan hujan badai
Jangan! Sepatah katapun jangan bicara
Jangan kau coba membuka bibir itu
Karena aku tak bisa menebak hujan apa yang akan menyembur dari sana
Karena aku, pun dirimu, tak akan bisa mengatasi apapun yang keluar dari sana
II
Dan setelah pelajaran hujan itu
Hanya sebentar saja kau menjadi pahlawan
Dalam sekejap kau menjadi relawan
Dan sekejap pula kau menjadi nelayan
Hingga arus tak bisa kau lawan
Dan setelah pelajaran hujan itu
Kau jadi menikmati permainan
III
Kau bau hujan.
Ketika mentari mencapai ubun-ubun kemarau
Banjir kami telah asin bercampur air mata
Dan yang bisa membuatmu hilang adalah awan
Kusiapkan segala bekal;
Bergegaslah! Langit telah mengosongkan segala isinya.
Palembang, 140211)
Kau bau hujan.
Berapa hari tak pulang kau bau hujan
Sebenarnya apa perolehanmu disana
Kenapa kehadiranmu kini menghadirkan mendung di setiap hati
Aku mencium bau hujan tidak hanya dari wajahmu
Rambutmu menyebarkan aroma gerimis
Tanganmu menyebabkan hujan angin
Dan kakimu, menghembuskan hujan badai
Jangan! Sepatah katapun jangan bicara
Jangan kau coba membuka bibir itu
Karena aku tak bisa menebak hujan apa yang akan menyembur dari sana
Karena aku, pun dirimu, tak akan bisa mengatasi apapun yang keluar dari sana
II
Dan setelah pelajaran hujan itu
Hanya sebentar saja kau menjadi pahlawan
Dalam sekejap kau menjadi relawan
Dan sekejap pula kau menjadi nelayan
Hingga arus tak bisa kau lawan
Dan setelah pelajaran hujan itu
Kau jadi menikmati permainan
III
Kau bau hujan.
Ketika mentari mencapai ubun-ubun kemarau
Banjir kami telah asin bercampur air mata
Dan yang bisa membuatmu hilang adalah awan
Kusiapkan segala bekal;
Bergegaslah! Langit telah mengosongkan segala isinya.
Palembang, 140211)
Kehilangan (Kepada Kakakku Shana)
Puncak selaksa melarikan dirimu,
Aku hampir kehilangan
Mengendap dan terengah kuhampiri dirimu
Semoga kelabu tak mengaburkan dera
Begitulah doa yang terlantun sejak saat itu
Lama kita berbicara dalam diam
Terpaku mendengarkan dendang gemuruh yang mendung
Bahkan kilat menyambar-nyambar
Pada titik ini,
Aku sangat takut kehilangan dirimu
Akhirnya kita luruh dalam gema bahana
Berlomba menjeritkan luka dan prasangka
Menorehkan pucuk-pucuk luka yang mulai mengakar
(tanpa kusadari dia menjalar,
merintis lorong-lorong kosong yang panjang diantara kita)
Kuhitung depa, semakin rasa takutku
Dan setelah percakapan malam
Subuh melukiskan riang canda kaki-kaki kecil kita
Siang membayang es krim ditanganmu dan lusinan permen ditanganku
(aku ingin es krim itu dan kau tak ingin berbagi)
Hingga senja mengantarkan remaja dan dewasa kita
Lalu malam datang menjemput senyap
Aku tahu, aku telah kehilangan dirimu
Monday, March 21, 2011
Luka Kami dan Negeri
dan rasaku pun tidak sama dengan rasamu
seperti sunnatullah cinta pun mengikutinya
hatiku menyamudra dibalik tiran
serupa brahmana terluka cinta:
bergolak amarah namun terantai prahara
aku Tuan yang dipasung menghamba
oleh abdi yang terbuai coba dan kuasa
kata-kata tak lagi punya rasa
laku pun teredam tak bernyawa
kembalilah aku hanya padaMU jua
pada kuasa dibalik kuasa
sapulah jagat semesta dengan cinta atau duka:
karena harap luluh lantak oleh keserakahan...
seperti sunnatullah cinta pun mengikutinya
hatiku menyamudra dibalik tiran
serupa brahmana terluka cinta:
bergolak amarah namun terantai prahara
aku Tuan yang dipasung menghamba
oleh abdi yang terbuai coba dan kuasa
kata-kata tak lagi punya rasa
laku pun teredam tak bernyawa
kembalilah aku hanya padaMU jua
pada kuasa dibalik kuasa
sapulah jagat semesta dengan cinta atau duka:
karena harap luluh lantak oleh keserakahan...
Adalah Cinta
Sesuatu itu beisi tiga perkara:
Nuansa, rasa, dan merah muda
Maka begitulah manusia menuai prasangka
Sedalam lautan ketika sedang nelangsa
Seterang mentari ketika ceria
Semanis madu ketika mencumbu
Dan seisi dunia dibuatnya terpaku
Bulan yang malu mengangguk-angguk
Mars yang menyala padam seketika
Dalam pada maya sesuatu itu terus memburu
Membuat sang pemuja terengah-engah
Antara suka, duka, dan putus dan asa
setengah berlari menuju anarki
dan sesuatu itu pula seloka merupa
siapapun akan mabuk dalam buaiannya
positiflah rahim negatiflah ranah
tak ada yang mampu menerka akan jadi apa pemuja
tetapi entah apa konkretnya
meski tak teraba,
ia tetap saja merah muda,
menuansa atau merasa:
adalah Cinta.
Palembang, 21 Maret 11, 03:19
Nuansa, rasa, dan merah muda
Maka begitulah manusia menuai prasangka
Sedalam lautan ketika sedang nelangsa
Seterang mentari ketika ceria
Semanis madu ketika mencumbu
Dan seisi dunia dibuatnya terpaku
Bulan yang malu mengangguk-angguk
Mars yang menyala padam seketika
Dalam pada maya sesuatu itu terus memburu
Membuat sang pemuja terengah-engah
Antara suka, duka, dan putus dan asa
setengah berlari menuju anarki
dan sesuatu itu pula seloka merupa
siapapun akan mabuk dalam buaiannya
positiflah rahim negatiflah ranah
tak ada yang mampu menerka akan jadi apa pemuja
tetapi entah apa konkretnya
meski tak teraba,
ia tetap saja merah muda,
menuansa atau merasa:
adalah Cinta.
Palembang, 21 Maret 11, 03:19
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tak SebeNing Namamu
Ning, konon begitu namamu Itu yang kudengar dari angin yang berhembus kencang Ning, sayang nasib tak begitu ramah menghampirimu Gentar sese...
-
Saat ini aku sedang berkuliah di Universitas Gajah Mada, Prodi Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM. Seperti yang kemarin sempat kudiskusikan denga...
-
Kepalaku pusing, dosen keren memberikan tugas mulia, merumuskan sistem media yang pas untuk Indonesia ditengah kacaunya manusia latah b...
-
NAWA Oleh: Clara Novita Anggraini, S.I.Kom Seperti biasa, pagi itu Nawa membuka harinya dengan mencuci piring. Ta...