Saturday, June 30, 2012
Thursday, June 14, 2012
NAWA
NAWA
Oleh:
Clara Novita Anggraini, S.I.Kom
Seperti biasa, pagi itu Nawa membuka harinya dengan mencuci piring.
Tangannya begitu cekatan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah seperti ini.
Mencuci pakaian, memasak, membersihkan rumah bisa dilakukan dengan cepat. Tidak
mengherankan, karena sejak umur 3 tahun, remaja Taropo seperti Nawa diwajibkan
untuk terampil mengerjakan semua pekerjaan rumah itu.
Mirnawati nama lengkapnya. Ia tinggal di Desa Taropo yang terletak di ujung selatan Kecamatan Kilo, kecamatan paling utara Kabupaten Dompu,
Provinsi Nusa Tenggara Barat. Karena letaknya yang jauh inilah Taropo jarang
dikenal. Masyarakat dompu di kecamatan lain banyak yang belum pernah
menginjakkan kaki di Taropo. Dengan countur
tanah yang berbukit-bukit dan terus menanjak ke atas, daerah ini mendapat
julukan Gunung Taropo.
Untuk mencapai Desa Taropo, ditempuh jarak kurang
lebih 67 km dari kota kabupaten. Akses kendaraan cukup sulit, dalam sehari
hanya ada sekitar 3 bis yang beroperasi, itu pun hanya dapat ditemui setelah ngojek sepanjang 7 km dari dalam Taropo.
Setelahnya, jalan menuju kota sangat rusak dan sering memakan korban jiwa.
Dengan akses yang sangat terbatas inilah Nawa
hidup. Maka Nawa tidak pernah kenal dengan sesuatu bernama internet. Nawa juga
tidak bisa berbahasa Indonesia. Padahal saat ini ia duduk di kelas 2 SMP.
Ketika ditanya berapa umurnya, Nawa menjawab tidak tahu. Ia tidak tahu tanggal
dan tahun lahirnya. Sebenarnya, Nawa lahir di Kota Kabupaten, Dompu. Tetapi
karena perceraian kedua orang tua, Nawa dan adiknya kemudian dititipkan ke
kampung halaman ibunya. Saat ini, ibunya tengah bekerja sebagai TKI di Arab
Saudi.
Tinggal bersama kerabat membuat Nawa harus
bekerja keras setiap hari. Seringkali hanya untuk memasak dan mencuci baju
keluarga Nawa mengorbankan sekolahnya. Ia juga sering mendapat orderan mengerjakan pekerjaan rumah
untuk kemudian di gaji. Setiap harinya Nawa hanya mendapat uang jajan Rp.2000
dari uang kiriman ibunya yang di atur oleh paman dan bibinya. Dari membantu
orang lain mengerjkan pekerjaan rumah, Nawa bisa mendapatkan uang tambahan
untuk jajan dan membayar fotokopian buku di sekolah. Meskipun begitu, Nawa
tetap ceria menjalani kehidupannya. Dalam benaknya, beginilah kehidupan yang
normal.
Ayahnya saat ini telah menikah lagi. Nawa
mempunyai ibu tiri persis seperti di cerita Cinderella.
Sesekali Nawa dan adiknya bertandang ke rumah ayah dan ibu tirinya, mereka
selalu bertengkar. Nawa dan adiknya hanya bisa diam. Secara ironi Nawa
menceritakan betapa baik ibu tirinya: “Persis seperti di sinetron-sinetron”.
Nawa tidak mengharapkan apapun dari ibu tirinya. Karena di benaknya, stigma ibu
tiri sedari awal memang kejam, seperti apa yang dikatakannya: sama seperti yang
digambarkan oleh sinetron yang mereka tonton. Sejak listrik masuk satu tahun
yang lalu, beberapa warga memang sudah mempunyai televisi meskipun harus dilengkapi
dengan parabola dan LCD untuk mendapatkan sinyal.
Terkadang Nawa juga tinggal di rumah neneknya
apabila rumah pamannya banyak tamu. Pamannya merupakan seorang tokoh masyarakat.
Karena itu, seringkali setelah membantu di rumah pamannya, Nawa akan tidur di
rumah nenek. Keadaan saat tinggal bersama neneknya tidak lebih baik. Setelah
anak-anaknya dewasa, nenek masih tetap bekerja di lahan seluas 1 Ha. Panen
musim ini hanya menghasilkan uang Rp.3.000.000, padahal panen hanya terjadi satu tahun sekali. Hanya
sekejap saja, uang tersebut habis untuk membayar hutang di kios dan bank saat
membuka lahan. Untuk makan selanjutnya, masih ada tanaman padi. Beras cukup melimpah
di Taropo, karena itu banyak warga yang hanya makan nasi dengan garam dan air. Jika
ada uang, micin dan cabai dibeli untuk menambah rasa. Meskipun sayur bisa
tumbuh subur di Taropo, tidak banyak warga yang menanam dan makan sayur. Belum
ada kesadaran hidup sehat di Taropo. Begitu juga dengan keluarga Nawa. Makanan
instan seperti mie dan micin merupakan makanan mewah.
Setelah mengerjakan berbagai pekerjaan rumah,
Nawa berangkat ke sekolah. Ketika tidak ada guru, Nawa pergi ke perpustakaan
untuk membaca buku. Tidak seperti teman-temannya yang gemar bernyanyi dan
menari menirukan girl band di televisi,
Nawa lebih suka membaca. Sayangnya, buku-buku di sekolah Nawa tidak bisa
dipinjam dan di bawa pulang. Hanya sedikit waktu yang dimiliki Nawa untuk bisa
membaca buku. Sekolah biasanya berakhir pada pukul 10:00 WITA, setelah dimulai
pada pukul 07:30. Guru yang jarang datang menjadi kendala utama. Kalaupun ada
guru yang datang, belum tentu mereka akan mengajar, siswa dibiarkan begitu
saja. Maka Nawa dan teman-teman terbiasa dengan pulang cepat dan tidak betah di
sekolah.
|
Sepulang sekolah, Nawa akan membantu keluarga
paman dan neneknya memasak atau membantu di lahan ketika musim panen. Menonton
televisi dapat dilakukan seharian apabila sedang ada waktu luang. Tidak seperti
teman-temannya, Nawa tidak suka nongkrong di pinggir jalan di malam hari. Kebanyakan
remaja
Taropo biasanya nongkrong
bersama-sama. Sekadar bercanda antara muda-mudi, saling cari kutu bagi remaja
putri, bermain kartu domino, sampai dengan judi pacuan kuda.
Memasang
nomor buntu (judi undian nomor) juga sangat digemari di Taropo. Mulai dari
anak-anak sampai dengan dewasa. Kemajuan teknologi juga tidak berdampak baik.
Judi pacuan kuda dilakukan via menonton tayangan pacuan kuda di stasiun
televisi tertentu. Watak yang keras menyebabkan masyarakat Taropo tidak mudah
di sentuh dengan hal positif. Meskipun semua penduduk beragama Islam, yang
datang memenuhi panggilan adzan shalat ke masjid hanya sekitar lima orang,
kebanyakan warga di usia sepuh. Masyarakat Taropo juga tidak mau menerima
penceramah yang belum sepuh.
Nawa adalah
salah satu dari sekian banyak remaja yang bernasib sama. Dititipkan kepada
kerabat sejak kecil oleh orang tua yang bercerai. Di daerah pelosok banyak
terjadi kasus perceraian. Entah karena kesulitan ekonmi, selingkuh, atau karena
tidak mempunyai pengetahuan agama yang cukup dalam menjalani hidup. Tidak ada
pemikiran untuk masa depan diri dan keluarga. Karena kesulitan ekonomi sang ibu
pergi ke Arab Saudi menjadi TKI. Tidak ada kasih sayang yang didapat secara
langsung oleh anak-anak korban perceraian seperti ini. Meski tidak pernah
shalat dan mengaji, Nawa berkekad untuk sekolah tinggi hingga menjadi guru.
Setelah itu, baru akan memikirkan menikah. Cita-cita Nawa, tentu berangkat dari
latar belakang keluarga yang dimilikinya. Diluar segala keterbatasan dan
keluguannya, remaja seperti Nawa tetap
hidup dengan ceria.
Thursday, May 10, 2012
Monday, May 7, 2012
Masuk Barisan Sekolah Guru Indonesia, Beranikah Anda?! (Sebuah Tantangan Kepada Para Pemuda Cerdas)
Masuk
Barisan Sekolah Guru Indonesia, Beranikah Anda?!
(Sebuah
Tantangan Kepada Para Pemuda Cerdas)
Jangan
sembarangan masuk SGI. Mungkin SGI terdengar sangat menggiurkan. SGI tidak
menjanjikan gaji yang menggiurkan, pas-pas an saja memenuhi kebutuhan hidup di
daerah penempatan. Nilai baik buruk di SGI beracuan pada Tuhan, Syariat Islam,
Allah SWT, karena SGI di danai oleh uang zakat. Uang zakat tidak bisa dipakai
secara sembarang kawan. Dengan demikian anda di tuntut untuk menguasai ilmu
ikhlas. Anda juga harus mau dijoglok untuk berkarakter, sangat tidak
mudah bagi fresh graduate yang
menyandang predikat berprestasi. Ego anda akan ditekan sedmikian rupa untuk dibentuk menjadi acuan berstandar SGI.
Anda
juga tidak akan mendapatkan prestise.
Anda hanya akan mendapat sanjungan yang mematikan niat lurus anda. Anda akan dinilai
hebat karena bersedia membangun negeri walaupun menderita. Tinggal di daerah
pelosok dengan masyarakat bermindset
terbelakang, tidak ada makanan, air, listrik, dan sinyal. Hanya segelintir
orang saja yang menyanjung anda seperti itu. Mereka adalah orang-orang yang
mengerti, berlatar pendidikan menengah ke atas. Sedikit jauh dari Pulau Jawa,
terutama kabupaten-kabupaten, anda tidak akan bertemu lagi dengan orang-orang
seperti itu. Jangan berharap juga anda akan kebagian sedikit prestise lembaga, Koran
Republika, media massa tempat lahirnya Dompet Dhuafa yang menggawangi SGI.
Masyarakat pelosok tidak akan tahu apa itu SGI, Dompet Dhuafa, dan atau Koran Republika.
Anda tidak akan di label hebat berjiwa malaikat. Anda akan di pandang sebagai
orang asing yang tiba-tiba datang entah dengan maksud apa. Anda akan di
curigai, di investigasi berapa gaji anda, di anggap bisa segala hal, dimonitor
setiap tindak tanduk anda. Salah langkah sedikit, anda akan di anggap
menggurui. masyarakat dengan karakter keras dan terbelakang tidak akan suka
digurui.
SGI
bukan sekedar gerakan mengajar. SGI murni sebuah pengabdian. Pengabdian kepada
Allah SWT. Pembuktian bahwa diri bernilai di mata Tuhan, bukan di mata manusia.
Anda tidak akan mendapatkan duniawi. Harta anda berbentuk amal, bekal di
akhirat, yang tidak kasat mata. Sebagai manusia anda akan kesulitan memahami
realitas ini, terutama ketika iman anda sedang turun. Sudah Sunnatullah iman
manusia naik turun bukan? SGI berbeda dengan program mengajar lainnya. Anda akan
dididik profesi keguruan, dan setelah kontrak selesai, anda diharapkan terus
menjadi guru atau minimal tetap berkecimpung di dunia pendidikan. SGI tidak
sekadar gerakan mengajar. Setelah ngebut pembekalan selama 6 bulan, anda akan
membangun sebuah desa bukan hanya di sekolah saja, tetapi juga melakukan community development dan social awareness. Anda akan membangun
pemikiran, mengaktifkan kembali organisasi kemasyarakatan seperti karang taruna,
pengajian ibu-ibu, dan memberikan akses ekonomi agar masyarakat primitif berubah produktif.
Beranikah
anda bergabung dengan SGI? Semenjak menandatangai kontrak pertama kali ego anda
akan di tekan habis. Sedari awal bergabung anda akan di cap sebagai seorang
dewasa yang cerdas, sekali lagi dengan ukuran syariat islam. Bukan sebatas menjalankan
kewajiban dalam agama islam, tetapi juga tataran sunnah: cara berbicara, makan,
dan berinteraksi. Bahkan ketika penempatan anda dituntut untuk mensyiarkan sunnah-sunnah
dalam agama islam. Siapkah anda? Anda tidak akan diberi waktu lama untuk
beradaptasi. Dengan salah satu point
kontrak bersedia mematuhi semua peraturan di SGI tanpa mengetahui detail point-point tersebut, sistem yang
diterapkan di SGI sama seperti zaman Rasulullah: sami’na wa ato’na (kami
dengar dan kami taat).
Bergabung
dengan SGI bukan sekedar mengorbankan diri mengajar di pelosok sambil makan
nasi dengan garam, mengangkut air 100 meter sebelum bisa mandi, tinggal
bergelapan tanpa listrik (apalagi internet), tidak bisa dihubungi orang tua
karena tidak ada sinyal, dan menggantikan guru mengajar sementara mereka sibuk
mengobrol dan memaki murid. Bergabung di SGI adalah sebuah bentuk kesadaran
sebagai mahluk ciptaan Allah SWT. Di SGI anda sama sekali tidak mendapatkan
duniawi. Di SGI, anda difasilitasi untuk memenuhi fitrah anda sebagai manusia
di bumi: menjadi khalifah, mengajak amar ma’ruf nahi munkar, dan
bermanfaat. Siapkah anda?!
Kepada
para pemuda idealis, cerdas, dan prestatif yang menasbihkan hidupnya untuk
kemajuan bangsa, kemanfaatan, atau apapun namanya. Bergabung dengan SGI Dompet
Dhuafa, beranikah anda?!
Friday, January 20, 2012
Dara dan Taujih (awal merasakan keberlimpahan informasi)
Dara membaca sms yang baru saja masuk di ponselnya. Dari nama di layar dia sudah tau apa kira-kira isi dari sms itu. Sebuah taujih. Yang terkadang panjangnya bisa mencapai 5 halaman. Jika tidak sedang dalam keadaan lelah atau terburu-buru, akan dibaca dengan teliti. Mencoba mengerti maksud taujih itu. Terutama maksud si pengirim setelah memaparkan beberapa ayat alquran, hadist, atau pendapat orang bijak. Saat inilah, berbagai prasangka akan muncul di hati dara.
Selanjutnya, prasangka ini akan diolah otaknya secara spontan. Membuahkan pikiran-pikiran yang positif, setelah berkali-kali menganulir pikiran-pikiran negatif yang muncul. Dara mensugesti, mencoba berhusnudzan, dan mengafirmasi diri sendiri. Mau tidak mau akan ada pemikiran: "kenapa orang ini mengirimi saya taujih seperti ini? Apakah saya telah melakukan perbuatan jelek yang mengakibatkan taujih itu muncul?".
Pertanyaan ini akan muncul terutama pada orang yang belum terlalu dikenal dara. Jika terhadap orang yang dikenal, maka dara akan bersikap positif, apalagi jika tidak ada kejadian menyangkut dirinya tentang taujih itu. Atau juga karena dara sudah mengenal tabiat, watak, serta pemikiran si pengirim taujih. Maka dara hanya membaca sekilas, menunda untuk membaca, atau langsung mengirimkan feedback positif secara singkat jika mood nya sedang baik. Sama sekali tidak ada pertanyaan yang mengganjal.
Dalam benak dara, taujih yang sering diterimanya melalui sms adalah sesuatu yang baik. Tetapi tetap saja, terkadang dara enggan membaca sms-sms itu. Panjang halaman sms, pemilihan kata, dan prolog yang menjemukan menjadi nominator utama penyebabnya. Terkadang dara malah terjebak. Memaksa diri membaca taujih tersebut karena khawatir dirinya tidak bersyukur. Masih banyak orang yang memperhatikannya dengan mengirim taujih-taujih itu. Dalam keadaan ini dara akan membaca sms secara terburu-buru tanpa mengerti maknanya.
Tetapi dara juga tidak memungkiri bahwa terkadang dia juga mempunyai keinginan membagi hikmah yang didapatnya melalui sms taujih. Tetapi karena kasus penerimaan taujih yang terjadi pada dirinya, dara menjadi sangat jarang melakukannya. Ketika berkesempatan, dara akan mengemas sms taujihnya, dengan semenarik, sesingkat, dan seefektif mungkin untuk dimengerti dan dibaca. Di luar segala bentuk penerimaan negatif dara terhadap faktor fisik dan isi sebuah sms taujih, dalam benak dara sms taujih tetaplah positif. Meskipun Ia khawatir, bahwa jumlah taujih yang masuk ke-HP-nya yang semakin banyak dapat menyebabkan overload hingga rusaknya HP.
Tuesday, March 22, 2011
Kau Bau Hujan
I
Kau bau hujan.
Berapa hari tak pulang kau bau hujan
Sebenarnya apa perolehanmu disana
Kenapa kehadiranmu kini menghadirkan mendung di setiap hati
Aku mencium bau hujan tidak hanya dari wajahmu
Rambutmu menyebarkan aroma gerimis
Tanganmu menyebabkan hujan angin
Dan kakimu, menghembuskan hujan badai
Jangan! Sepatah katapun jangan bicara
Jangan kau coba membuka bibir itu
Karena aku tak bisa menebak hujan apa yang akan menyembur dari sana
Karena aku, pun dirimu, tak akan bisa mengatasi apapun yang keluar dari sana
II
Dan setelah pelajaran hujan itu
Hanya sebentar saja kau menjadi pahlawan
Dalam sekejap kau menjadi relawan
Dan sekejap pula kau menjadi nelayan
Hingga arus tak bisa kau lawan
Dan setelah pelajaran hujan itu
Kau jadi menikmati permainan
III
Kau bau hujan.
Ketika mentari mencapai ubun-ubun kemarau
Banjir kami telah asin bercampur air mata
Dan yang bisa membuatmu hilang adalah awan
Kusiapkan segala bekal;
Bergegaslah! Langit telah mengosongkan segala isinya.
Palembang, 140211)
Kau bau hujan.
Berapa hari tak pulang kau bau hujan
Sebenarnya apa perolehanmu disana
Kenapa kehadiranmu kini menghadirkan mendung di setiap hati
Aku mencium bau hujan tidak hanya dari wajahmu
Rambutmu menyebarkan aroma gerimis
Tanganmu menyebabkan hujan angin
Dan kakimu, menghembuskan hujan badai
Jangan! Sepatah katapun jangan bicara
Jangan kau coba membuka bibir itu
Karena aku tak bisa menebak hujan apa yang akan menyembur dari sana
Karena aku, pun dirimu, tak akan bisa mengatasi apapun yang keluar dari sana
II
Dan setelah pelajaran hujan itu
Hanya sebentar saja kau menjadi pahlawan
Dalam sekejap kau menjadi relawan
Dan sekejap pula kau menjadi nelayan
Hingga arus tak bisa kau lawan
Dan setelah pelajaran hujan itu
Kau jadi menikmati permainan
III
Kau bau hujan.
Ketika mentari mencapai ubun-ubun kemarau
Banjir kami telah asin bercampur air mata
Dan yang bisa membuatmu hilang adalah awan
Kusiapkan segala bekal;
Bergegaslah! Langit telah mengosongkan segala isinya.
Palembang, 140211)
Kehilangan (Kepada Kakakku Shana)
Puncak selaksa melarikan dirimu,
Aku hampir kehilangan
Mengendap dan terengah kuhampiri dirimu
Semoga kelabu tak mengaburkan dera
Begitulah doa yang terlantun sejak saat itu
Lama kita berbicara dalam diam
Terpaku mendengarkan dendang gemuruh yang mendung
Bahkan kilat menyambar-nyambar
Pada titik ini,
Aku sangat takut kehilangan dirimu
Akhirnya kita luruh dalam gema bahana
Berlomba menjeritkan luka dan prasangka
Menorehkan pucuk-pucuk luka yang mulai mengakar
(tanpa kusadari dia menjalar,
merintis lorong-lorong kosong yang panjang diantara kita)
Kuhitung depa, semakin rasa takutku
Dan setelah percakapan malam
Subuh melukiskan riang canda kaki-kaki kecil kita
Siang membayang es krim ditanganmu dan lusinan permen ditanganku
(aku ingin es krim itu dan kau tak ingin berbagi)
Hingga senja mengantarkan remaja dan dewasa kita
Lalu malam datang menjemput senyap
Aku tahu, aku telah kehilangan dirimu
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tak SebeNing Namamu
Ning, konon begitu namamu Itu yang kudengar dari angin yang berhembus kencang Ning, sayang nasib tak begitu ramah menghampirimu Gentar sese...
-
Saat ini aku sedang berkuliah di Universitas Gajah Mada, Prodi Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM. Seperti yang kemarin sempat kudiskusikan denga...
-
Kepalaku pusing, dosen keren memberikan tugas mulia, merumuskan sistem media yang pas untuk Indonesia ditengah kacaunya manusia latah b...
-
NAWA Oleh: Clara Novita Anggraini, S.I.Kom Seperti biasa, pagi itu Nawa membuka harinya dengan mencuci piring. Ta...


